Bagi Pria, Memanjangkan Rambut adalah Perjuangan

...

Memanjangkan rambut adalah perjuangan, demi menjadi gondrong seorang pria diharuskan memiliki tekad luar biasa dan kesabaran.

Selanjutnya, untuk mengurai gondrong sebagai jalan perjuangan, setidaknya tulisan ini akan berfokus pada 2 sebab, kenapa menjadi gondrong sejatinya adalah perjuangan.

Telaah historis jalan perjuangan gondrong

Khusus untuk apa yang telah dan masih berlangsung di Indonesia. Sampai hari ini pelabelan gondrong sebagai sikap berontak masih sangat terasa.

Memuncak di tahun 1973, dimana rezim Orde Baru masih berkuasa.

Di era kekuasaan Soeharto, yang mana tentu saja kita bicara soal militerismenya, narasi penyeragaman cara pandang kental terjadi. Termasuk di dalamnya perihal estetika dan etik pengelolaan tubuh manusia.

Baca juga: Pilihan Fashion Pria yang Tepat untuk Pria Gondrong

Militer adalah standar, untuk semua orang harus klimis dan rapi. Tidak peduli pejabat atau seniman, pengangguran, tukang sayur, dll.

Rambut gondrong diberantas; Terstruktur, Sistematis, dan Masif

Tidak main-main menyikapi rambut gondrong. Jendral Soemitro, Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban di Kabinet Pembangunan I sampai mengirim radiogram instruksi MENHANKAM saat itu. Berisi larangan berambut gondrong untuk anggota TNI dan karyawan di lingkungan TNI beserta seluruh keluarganya.

Lebih jauh, penerapan instruksi MENHANKAM No.SHK/1046/IX/73 memicu digelarnya razia gondrong. Citra negatif gondrong kian menguat dengan keterlibatan media massa yang juga dipicu instruksi tersebut.

Fenomena razia gondrong pun ramai digelar di daerah lain. Rambut gondrong diberantas; terstruktur, sistematis, dan masif. Muncul banyak razia dan gerakan penertiban pria berambut panjang.

Salah satunya di Sumatera Utara, Marah Halim, Gubernur Sumut kala itu sampai membentu badan khusus yang dikenal dengan nama BAKORPERAGON (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong).

Penghianatan senior

1973 belumlah terlampau jauh, pada artikel ini dipublish itu baru 47 tahun yang lalu. Haqul yaqeen kalangan elit di ragam institusi hari ini adalah orang yang telah hidup di era itu. Era di mana citra preman tak memiliki sekat dengan gondrong.

Kita bahkan telah melalui reformasi, rezim sudah berganti, salah satunya disebabkan penolakan atas militerisme itu sendiri. Tidakkah seharusnya citra gondrong ikut ter-reformasi ?.

Sedihnya, tidak sedikit dokumentasi yang jelas terpampang dan beredar, gondrong punya andil atas pegelaran reformasi. Tapi gondrong tak boleh sedih, ini bukan sekedar ukuran rambut, ini jalan perjuangan.

Akhirnya, patutlah direnungkan; apa lagi alasan untuk memertahankan penyeragaman koridor etik dan estetik ?. Ada banyak dalil penopang pertanyaan ini, salah satunya, mayoritas kontributor kerugian negara justru datang dari orang-orang rapi dan klimis.

Penghianatan kaum alim

Baginda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam berambut gondrong, adakah manusia di planet ini yang melebihi pemahamannya tentang islam ?.

Kaum alim pelarang ucapan natal boleh jadi akan berdalih; Pada masa nabi, pria memang biasa memanjangkan rambut, berbeda dengan zaman sekarang.

Thoyyib, jika memanjangkan rambut adalah buruk apakah mungkin seorang Muhammad tidak melarangnya ?. Padahal di masa itu, perkara gondrong umum terjadi.

Memang, umumnya ulama berpendapat status hukum terkait gondrong hanyalah mubah/boleh (ada segelintir yang memandang gondrong sebagai sunnah).

Lantas, kemana semangat menyuarakan Larangan Mengucapkan Selamat Natal kalian saat mengetahui suri tauladan mu adalah pira berambut panjang ?. Tidakkah seharusnya pada konteks ini kalian juga gondrong ?,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”

(HR Abu Daud dan Ahmad)

Bagaimana mungkin kalian nyaman memendekkan rambut, sembari menggunakan dalil ini untuk melarang manusia lain memberi ucapan natal atas saudara se-manusia lainnya ?.

Sejauh tidak dengan niat buruk dan dirawat dengan baik, gondrong boleh-boleh saja.

مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ

“Barang siapa memiliki rambut panjang, maka hendaknya dia memuliakan rambutnya (merawatnya dengan baik).”

(HR. Abu Dawud, no.3632. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

Telaah kontemporer jalan perjuangan gondrong

Tidak sedikit pria yang akhirnya kembali memendekkan rambut setelah diterkam ragam cibiran atau malah karena tidak sanggup menghadapi peliknya permasalahan gondrong.

Cara pandang mayoritas orang Indonesia hari ini masih sangat terpengaruh instruksi MENHANKAM No.SHK/1046/IX/73. Di Indonesia, menjadi gondrong artinya harus siap menjalani hidup dibawah tekanan, baik yang datangnya dari kaum stereotype, maupun raksasa-raksasa industri kosmetik.

Setali tiga uang dengan yang masif di alami wanita. Tantangan utama berpenampilan kini adalah standar indah yang diprakarsai raksasa industri kosmetik dalam. Aksi cuci otak yang dilakukan nyatanya berhasil, rapi dan necis masih jadi patokan untuk keren dan/atau baik.

Merawat pertumbuhan rambut pria dalam sebulan, yang hanya mampu bertambah maksimal 1,25cm adalah ujian kesabaran dan jalan pembuktian tekad yang luar biasa. Meski begitu, harus diakui minimnya pengetahuan dalam hal merawat rambut adalah akar permasalahannya.

Tinggalkan Jejak