Robert Nesta Marley, Musisi Gondrong Gimbal Pemuka Rastafarianisme

...

Tokoh gondrong kali ini berasal dari kalangan musisi. “Don’t worry about a thing, Cause every little thing is gonna be alright” adalah potongan lirik dari Three Little Birds, salah satu lagu yang berhasil dipopulerkannya.

Robert Nesta Marley, atau lebih dikenal dengan nama Bob Marley adalah musisi, penyanyi, dan pencipta lagu sekaligus pemuka rastafarianisme.

Gerakan Rastafari yang di usung Bob Marley tercermin jelas melalui lagu-lagu yang dia ciptakan dan nyanyikan. Kombinasi musisi dan rastafarian membuat pria gondrong yang satu ini menjelma sebagai duta musik reggae ternama dunia.

Musisi gondrong pemuka rastafarian – urbanislandz.com

Marley yang jika masih hidup sampai hari ini berumur 75 tahun diketahui berhasil menjual lebih dari 20 juta copy sepanjang karirnya sebagai musisi.

Kehidupan awal

Lahir di St. Anne, Nine Mile, Jamaika pada 6 Februari 1945. Ayah Bob Marley, Norval Sinclair adalah pria berkulit putih yang sehari-harinya bekerja sebagai pengawas perkebunan, meninggal saat Bob berusia 10 tahun. Sementara ibunya, Cedella Booker merupakan seorang penulis lagu.

Bob Marley bersama teman masa kecilnya Neville “Bunny” O’Riley Livingston, berbagi kecintaan pada musik dan sekolah di tempat yang sama semasa di St. Anne. Kontribusi nyata Bunnyi adalah ketika dirinya menjadi inspirasi Bob marley untuk belajar bermain gitar.

Keduanya kemudian menjadi saudara tiri setelah ayah Bunny, Tahedus dan Ibu Bob akhirnya dikaruniai putri. Bersama adik perempuannya, Pearl, untuk sementara waktu mereka tinggal bersama di Kingston.

Akhir tahun 1950, saat mendiami Kingston Marley hidup di Trench Town, salah satu kawasan termiskin di kota tersebut.

Tinggal di kawasan miskin tidak membuat Bob Marley patah arang, latar belakangnya tersebut justru menjadi sumber inspirasinya bermusik. Trench Town memang dikenal sebagai kota dengan beberapa pemain musik sukses, yang digelari “Motown of Jamaica”.

Melalui Jukebox dan Radio, musik-musik dari Amerika Serikat masuk di Trench Town. Dalam perkembangannya Bob Marley diketahui mendapat pengaruh dari musisi lainnya seperti Elvis Presley, Drifters, Ray Charles, dan Fats Domino.

Putus sekolah di usia 14 tahun, Bob Marley banyak memanfaatkan waktu untuk bermusik bersama Bunny. Kemampuan bernyanyinya ia tingkatkan dibawah bimbingan Joe Higgs.

Hingga di kemudian hari Marley bertemu Peter Tosh dan Peter McIntosh, 2 orang yang memainkan peran penting sepanjang karir musiknya.

Bob Marley & The Wailers

Salah seorang produser di Trech Town, Leslie Kong, mengaku suka dengan karakter suara Bob Marley. Dibuatlah beberapa rekaman single, termasuk didalamnya “Judge Not” yang dirilis pada tahun 1962.

Bob Marley and The Wailers – i.scdn.co

Sayang, Marley tampil tidak begitu baik sebagai artis solo. Tahun 1963, Marley, Livingston, dan McIntosh akhirnya membentuk band bernama The Wailing Wailers, dengan mengusung “Simmer Down” sebagai single pertamanya.

Tidak butuh waktu lama, Simmer Down memuncaki tangga lagu jamaika Januari 1964. Setahun setelahnya album pertama dirilis, The Wailing Wailers kembali meraih sukses dengan single “Rude Boy”.

Tahun 1970 band reggae ini merilis album internasional pertamnya, “Soul Rebels”. Menyusul di tahun berikutnya The Wailing Wailers merilis 2 album lain yang juga populer, “Soul Revolution”, dan “The Best of the Wailers”.

Bob Marley kemudian menandatangani kontrak bersama CBS Records yang berbasis di London pada 1972.

The Wailing Wailers tampil bersama group wanita bernama I-Threes yang anggotanya termasuk Judy Mowatt, Marcia Griffiths dan istri Marley, Rita.

Popularitas reggae naik pesat dibantu tur band yang kemudian dinamakan Bob Marley & The Wailers ini. 1975 jadi puncaknya, ketika “No Woman, No Cry” menjadi hit top 40 pertama mereka di Inggris.

Pernikahan dan Rastafarianisme

Bob Marley kemudian menikahi Rita Anderson pada tahun 1966 dan menghabiskan beberapa bulan bersama ibunya tinggal di Delaware, Amerika Serikat.

Suatu waktu Marley kembali ke Jamaikan, dan melakukan penjelajahan sisi rohani. Minat atas gerakan rastafarian subur dalam diri Bob Marley.

Gerakan rastafari diketahui mulai tumbuh baik sebagai agama dan cara pandang politik di Jamaika pada periode 1930an

Sebagai penganut rasta yang taat, Bob Marley kemudia memanjangkan rambut gimbalnya yang khas. Bahkan ikut aktif dalam ritual penggunaan ganja.

Rastafarianisme meyakini mengisap ganja dapat membersihkan pikiran dan tubuh, serta membuat jiwa lebih dekat pada Tuhan.

Berawal di Jamaika, gerakan rastafarian menyebar luas ke seluruh dunia berkat popularitas Bob Marley. Kesempatan itu juga diambil dengan menyelipkan beragam doktrin rasta melalui lirik lagu dari bintang reggae pemuka rastafarianisme tersebut.

Walau hingga kini, Rastafarianiesme masih sangat tidak teroganisir, dan tidak menjadi agama. Banyak penganut mengaku memandang rastafarianisme hanya sebagai cara hidup atau budaya.

Tinggalkan Jejak